Minggu, 28 Desember 2014

Pertemuan dan perpisahan di antara kita



Rintik hujan membasahi jalan-jalan di depan rumahku, embun yang menembus sampai ke dinding kamarku. Aku melihat betapa deras hujannya saat itu, membuat aku merasakan hangatnya merindukan, membuatku mengingat akan masa lalu yang baru saja terlewati beberapa minggu lalu, iya minggu lalu tepat malam itu aku merasakan betapa patah hati diriku. Yang aku ingat saat malam itu adalah, tatapan matamu yang seakan aku tak akan pernah lupa, tatapan terakhir yang kau berikan untukku sebelum kau tinggalkan aku di hari-hari yang sepi tanpamu.
            Aku berdoa pada tuhan ,”ya tuhan, jika ia lebih bahagia tanpaku berikanlah ia seseorang yang bisa membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum lebar, tertawa lepas, dan bercanda seakan aku tak ada lagi didekatnya, tuhan, bantuk aku melupakannya dan melupakan kenangan ini, karna hal tersulit bagiku adalah melihatnya bersama orang lain”
            Malam yang sangat menyakiti untukku sudah terlewat, pagi ini aku hanya seorang diri duduk di meja makan seperti biasa. Adikku yang biasanya menemaniku sarapan pagi untuk kali ini tidak karena ia berangkat lebih awal. Seperti biasa, aku bergegas berangkat sekolah dengan salah satu teman sekolahku, panggil saja putri. Aku dan putri sudah terbiasa bersama semenjak 9 tahun lalu. Dia adalah teman dekatku dan teman ceritaku.
            Ia bertanya padaku di perjalanan ,”apa kamu sudah bisa melupakan dia dari satu minggu yang lalu?,”
            ,”hal tersulit untukku adalah melupakannya, kamu harus tau itu. Karna melupakan tak semudah aku membalikkan telapak tanganku,” jawabku.
            Seperti di hari-hari biasa, aku duduk dan aku hanya diam, diam ini yang membuatku seakan ingat dengan masa laluku. Sepulang sekolahpun aku tak banyak bicara terhadap teman-temanku. Karna yang aku tau, jika aku bercerita banyak hanya ceritaku yang mereka dengar tanpa mereka tau bagaimana perasaanku sebenernya.
            Hari demi hari aku lewati tanpa kabarnya, tanpa wajahnya, senyumnya ataupun bicaranya, dan tak terasa aku sudah melewati ini 4 bulan tanpanya. Mungkin saat ini aku baru sadar, bahwa banyak lelaki yang lebih baik darinya, aku berfikir bahwa aku terlalu bodoh menggalaukan dia yang hanya serpihan masa laluku. Masa lalu yang tak akan dapat ku genggam lagi.
            Tak terasa aku dekat dengan seorang lelaki teman sekolahku, mungkin saja hanya jurusan saja kita berbeda, namanya rayhan, ,menurutku dia baik padaku, perhatian dan selalu mengerti keadaanku saat itu. Aku terlalu berharap lebih untuk mendapatkan dan memiliki hatinya. Hari demi hari ini aku lewati bersama walaupun tanpa status kita melewati semua ini, aku mengajaknya main bersama teman-temanku.
            Hari sudah mulai malam, aku dan rayhan beranjak pulang, aku diantarkannya sampai depan rumahku, yang aku rasakan pada malam itu adalah hati yang tak tertebak, semua perasaan itu campur aduk, seakan aku bisa melupakan masa laluku yang dulu. Mungkin ini yang dinamakan cinta, cinta yang bisa buat hari-hariku indah dan tersenyum kembali. Aku berdoa dalam hati ,”tuhan, terimakasih atas anugrah yang kau berikan, dengan keberadaan rayhan di hidupku aku merasakan warna – warni perasaan itu kembali di hidupku,”
            Bisa dibilang sudah 2 bulan aku dan rayhan pendekatan, tetapi mengapa ada perasaan yang tak terduga saat itu, perasaan yang aku rasakan mulai pudar, hilang, dan aku mulai merasa jenuh terhadapnya, aku merasakan jika aku hanya dipermainkan olehnya. Yang aku tau saat itu rayhan tak hanya dekat denganku, tetapi ia juga dekat dengan teman sejurusannya. Tapi apa boleh buat? Aku tidak boleh melarangnya untuk menjauhi mereka, karna aku tau dimana posisiku.
            Seminggu sudah rayhan tidak memberi kabar padaku, tidak bbm, sms, ataupun meneleponku untuk waktu yang sebentar. Aku membiarkannya tanpa aku bertanya pada orang lain tentangnya, aku menunggu dia yang mengabariku karna dari cara ini lah aku akan tau seberapa besar rayhan perduli terhadapku semenjak aku dan dia lost contact.
            Tak kusangka, hari demi haripun aku mendengar berita tentangnya bahwa ia telah berpacaran dengan teman sejurusannya itu, aku bertanya pada temanku ,”apa yang kamu katakan benar tentang rayhan?”
            Ia menjawab,” ia, dia berpacaran dengan teman dekatnya,”
            Saat ini aku baru menyadari bahwa orang yang aku percaya akan hatinya, bisa menyakitiku dengan perlahan, aku bisa bercerita ke semua orang tapi tak semua orang akan mengerti dengan perasaanku. Saat ini hanya perasaan kecewa ke dua kalinya yang aku rasakan. Cinta? Aku seakan tak percaya tentang cinta kembali, aku merasa patah hati kembali dan merasakan kehidupan abu-abu itu kembali.
            Aku sadar, bahwa cinta tak harus memiliki, walaupun semua orang ingin memiliki, tetapi.. tak semua yang ingin kita miliki bisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar